Masih ingat sepenggal lirik berikut:
Si budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang..
Ada yang tahu itu lagu dinyanyikan oleh siapa? Lagu itu adalah lagu penyanyi legendaris Indonesia yang saya suka sekali. Di lagu itu saya menemukan kebenaran yang terjadi di masyarakat.
Awal kisahnya kemarin sore menjelang malam saya pulang dari kantor setelah menjemput istri dulu. Melewati perempatan Tomang dari Wisma Lampung menuju Ke Tangerang.
Disaat macet, sebagai info perempatan ini selalu macet di kala jam kantor. Jalan se-meter demi se-meter dilalui, dengan kondisi hujan lumayan lebat. Terlihat ada seorang anak kecil, Hujan-hujanan dengan menggunakan seragam sekolah (pramuka). Sangat semangat dari raut mukanya dalam menjajakan tisu, saya hanya tersenyum melihat tingkahnya. Karena di perempatan tersebut sudah umum sekali anak kecil menjajakan dagangan, mulai dari koran, tissu, hingga makanan (walaupun tidak terlalu banyak).
Saya majukan lagi mobil untuk menutup celah kosong didepan, setelah itu nampak benar perjuangan anak kecil tsb. Mohon maaf, kakinya tidak sempurna hingga jika berjalan agak sulit. Tak tega kami melihatnya, nurani kami terketuk. Mungkin saya sebut saja "si budi" untuk adek itu.
Akhirnya kami sepakat untuk membeli dagangannya, walaupun sejujurnya kami sudah ada tisu. Saya panggil dia, anak tersebut tergopoh-gopoh menghampiri mobil saya dengan semangatnya. Menuruni undakan (karena posisi mobil sudah dijalur masuk ke terowongan). Istri saya membuka kaca, dan bertanya, "berapa harganya sayang?". Dia menjawab dengan menggigil namun masih semangat, "10 ribu saja kak dapet 2 tisu". Istri saya mengambil uangnya, lalu membayar. Tidak berhenti disitu, ternyata disamping saya juga akhirnya memanggil adek "budi" untuk membeli tisu. Dia kembali menaiki undakan dengan semangat dan terjadi transaksi jual beli yang saya liat.
Lalu kami berbincang dengan saya mengelus perut istri saya (alhamdulillah istri sedang hamil, sudah 9 bulan tinggal menunggu lahiran). Saya ajak bicara calon "anak" saya, "adek... tadi abi lihat ada kakak yang semangat bekerja dan riang, semoga adek selalu riang dan cerdas. Namun abi merasa kasian dek dengan kakak tadi, karena kondisinya yang kurang normal. Semoga Allah subhanahu wattaala memberikan rezeki, sehat dan tak kekurangan lahir batin buat adek."
Buat saya pribadi, saya merasa berdosa jika tidak membantu "si budi" kecil. Bagaimana tidak, dia berusaha (berikhtiar) mendapatkan rezeki dalam kondisi yang sangat tidak baik untuk anak-anak diusianya. Hujan lumayan lebat, dengan 'kekurangan' yang dia tidak pernah meminta kepada Rabb-nya.
Bersyukurlah kami seraya mengucap Hamdalah, Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah sesembahan kami. Bersyukur karena kondisi kami secara kasat mata LEBIH BAIK dibandingkan dengan si budi kecil. Bisa dengan tenang duduk dimobil tanpa kehujanan, kedinginan atau mungkin kelaparan yang mereka sedang tahan. Saya juga berdoa untuk kebaikan "si budi kecil", semoga Allah subhanahu wattaala melimpahkan rezeki yang halal dan cukup untuk hidup dikota besar layaknya Jakarta.
Mungkin untuk penutup saya ingin memberikan lirik selanjutnya yang menurut saya sangat dalam, berikut sedikit lirik lanjutannya:
..Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal..
Semoga negara kita lebih memperhatikan nasib rakyat yang sangat kecil, bermanfaat juga tulisan saya untuk renungan. Semangat beraktifitas pagi ini.